Analisis pada Eksperimen Fisika yang dilakukan selama di ITB (Aktivitas Radioaktivitas)
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Detektor Geiger Muller tidak dapat menentukan jenis radioaktif yang digunakan karena kerja alat ini hanya bisa menghitung jumlah partikel/elektron yang lewat, dalam kata lain elektron yang diemisikan dari sumber. Ditambah lagi jumlah partikel yang dipancarkan bersifat random, tidak menentu, sehingga sangat sulit mennetukan sumber radioaktif dari ketidakpastiann jumlah partikel yang diemisikan. Namun walaupun kita tidak menentukan sumbernya, kita minimal bisa mengetahui apakah sumber memancarkan sinar gamma atau tidak. Karena GM Counter hanya bisa mendeteksi sinar alpa dan beta saja Alasan ditentukan tegangan kerja dahulu pada detector Geiger Muller yaitu agar kita tau pada saat rentang tegangan berapa saat GM counter bekerja secara fungsional, mengingat GM counter hanya bekerja pada saat didalam daerah V pada grafik gambar berikut
Jika jarak sumber dan detector dideaktan atau dijauhkan, pengaruhnya ke jumlah cacahan yang ditangkap. Jika jarak sumber dan detector didekatkan maka jumlah cacahan yang diterima akan lebih besar karena kuantitas radiasi yang diterima detector akan lebih besar berlaku untuk sebaliknya bila jarak sumber dan detektor dijauhkan maka jumlah cacahan yang diterima akan lebih kecil karena kuantitas radiasi yang diterima detector akan lebih kecil. Jika detector dibesarkan maka akan membuat kuantitas radiasi yang ditangkap oleh detector semakin lebih banyak..
Pada percobaan variasi tebal penghalang, semakin tebal penghalang maka nilai mean yang didapat semakin kecil dan nilai variannya semakin besar, hal ini dikarenakan semakin tebal lapisan penghalang membuat kuantitas sumber radioaktif yang diterima semakin lebih sedikit. Pada percobaan yang berkaitan dengan variasi jenis penghalang Semakin besar nilai massa jenis dari penghalang akan membuat nilai mean nya semakin kecil atau kuantitas sumber radioaktif yang diterima oleh detector akan semakin kecil. Berlaku untuk sebaliknya semakin kecil massa jenis penghalang akan membuat kuantitas sumber radioaktif yang diterima oleh detector semakin besar.
Perbandingan kurva distribusi untuk bahan Cs-137 dan Ba-133 dapat dilihat pada gambar 15 untuk Cs-137 dan 14 untuk Ba-133. Didapatkan hasil untuk bahan Cs-137 nilai mean dan variance yang didapatkan lebih tinggi dibandingkan bahan Ba-133. Puncak dari grafik Ba-133 lebih besar dibandingkan dengan puncak dari grafik Cs-137 dan waktu paruh Ba133 selama 10 tahun sedangkan untuk kalibrasinya di tahun 2002 dan waktu paruh Cs-137 selama 30 tahun dan untuk kalibrasinya di tahun 2007, sehingga untuk Ba-133 sudah mengalami peluruhan selama 16 tahun sedangkan untuk Cs-137 selama 11 tahun dan membuat kuantitas sinar radioaktif yang dipancarkan lebih besar dibanding Ba133. Pada percobaan ini digunakan konsep statistic pada peristiwa radioaktivitas untuk menyatakan probabilistic terbesar dari suatu percobaan, jika hanya dilakukan satu kali pengambilan data maka data yang didapat mungkin tidak akan sesuai dengan kenyataannya dan pada kenyataanya setiap bahan radioaktif terkadang tidak hanya memancarkan satu jenis sinar radiasi saja seperti Cs137 yang memancarkan sinar gamma dan beta.
Metode yang digunakan pada percobaan ini yaitu menggunakn distribusi normal, karena data data yang peroleh dari eksperimen berupa sejumlah data yang random, namun randomnya angka ini bisa dilacak/diprediksi dan berperan penting di dalam berbagai fenomena fenomena acak di alam. banyaknya fenomena alamiah yang terjadi secara acak dapat ditaksir peluang kemunculannya sebagai sebuah distribusi normal karena pemancaran sinar radioaktif yang dipancarkan oleh sumber bersifat acak dan juga kontinu, pada percobaan kali ini juga dilakukan pengambilan data yang cukup kecil sehingga nilai cacahan cenderung mendekati distribusi normal dan persebaran nilai dari datadata tersebut cenderung dekat sama lain
Untuk bagian open problem dengan menggunakan sumber Cs-137 kalibrasi tahun 2003 variasi jarak yang dilakukan di jarak 10 cm, 15cm, dan 20cm dengan sumber Cs-137 kalibrasi tahun 2007 didapatkan hasil nilai mean yang didapat dari Cs-137 kalibrasi tahun 2003 cenderung lebih kecil dibanding dengan nilai mean dari Cs-137 untuk Cs-137 kalibrasi tahun 2007 dan untuk Cs137 kalibirasi tahun 2003, kalibrasi tahun 2007 karena untuk sumber Cs137 kalibrasi tahun 2003 sudah terjadi peluruhan lebih awal sehingga kuantitas pemancaran sinar radioaktifnya akan lebih kecil dibanding dengan sumber Cs-137 kalibrasi tahun 2007.
Dengan menggunakan sumber Sr-90 (waktu paruh = 28,8 tahun) dan Am241 (waktu paruh 432 tahun) praktikan menggunakan penghalang Al I lalu didapatkan urutan nilai mean dari terkecil ke terbesar yaitu sumber Am-241, Cs137, dan Sr-90 sesuai dengan gambar 10 untuk sumber Cs13 tahun 2007, 19 untuk sumber Sr90, dan 20 untuk sumber Am-241 karena urutan waktu paruh dari tertinggi ke terendah yaitu dari sumber Am, Sr, lalu Cs sehingga semakin tinggi waktu paruhnya maka kuantitas pemancaran sinar radioaktifnya semakin melemah
60 hari bercerita KAIST #mudah_mudahan_bisa_konsisten_euyy Week 1 Day 00: Rabu, 08 October 2019 (Persiapan - Bandung) Disclaimer: *VISA JANGAN MEPET NGURUS, min 1 bulan sebelum* Setelah ngurus Visa dan surat kesehatan yang banyak drama (tiba"foto nya salah warna, kurang 1 berkas lah, pengiriman ke jakarta harus besok pagi gbs malam ini, surat keterangan mahasiswa dari TU ada typo la Hammam Raihan M(u)hammad -> M(o)hammad) dan miracle (Pak arie mau ngurusin, dan bayarin biaya pembuatan visa kita *makasih pak Arie*), selanjutnya persiapan berikutnya: Money Change *Money Change: di GMC Dago, tukar duit 250rb+50rb won (jaga"). 1 won = 12.15 IDR (di google, 11.85 IDR :v) jadi aku nukar IDR 3.645.000 buat 300rb won dan persiapan terakhir: bagasi koper (keberangkatan ): 20 kg bagasi koper (balik ke indo): 25 kg kabin default: 7 kg kenyataannya, barang yg dibawa: kabin 8.9 kg dan koper nyaris lewat 19.63 kg.wkkwk Punya timbangan di kos/rumah adalah sebuah pl...
#BelieveInMyself - 2 Studying in a university is not the same as studying in a high-school. This post discusses most of how I feel toward the social-environment in academics. During these 4 years studying in ITB, I've felt more pressures, start by the harder course-material, the teaching-learning pace was really quick to me, the situation when everybody seems to understand while I still try to understand the material, the situation when I felt that I needed to staying up late to study the material (even without sleep), and the most irritating me much is the condition where my hard work effort didn't pay off, yes the exam result. *I know, we are here to study, not to aim the exam result only. But who will be satisfied when you didn't deserve your dedication. Compared to studying in high school, I felt lesser pressure! The course material was easier to understand. I don't have to pay "too" much effort into studying it. I don't need to less sleep, less ...
[ ARTIKEL MASIH DALAM PENGEDITAN ] Berikut adalah postingan lanjutan dari postingan pertama saya mengenai Contoh masalah pada perkotaaan Bandung. Singkatnya, Disini saya mengambil beberapa solusi untuk menyelesaikan masalah kemacetan di Bandung, baik itu dari dalam negeri, mauupun dari luar negeri. Saya mengambil kutipan dari ( Sumber: http://infobandung.co.id/mengurai-masalah-kemacetan-kota-bandung/ ) ....... "Selain dari segi infrastruktur jalan, permasalahan kemacetan di kota Bandung juga disebabkan banyaknya kendaraan yang parkir di badan jalan sehingga membuat tambah sempit kondisi jalan yang sudah ada. Ia juga mengungkapkan bahwa tumbuhnya outlet – outlet dan bermacam rumah makan tidak dibarengi dengan fasilitas parkir yang memadai sehingga banyak yang memakai badan jalan. Untuk mengurangi parkir di badan jalan, rencananya Pemerintah Kota Bandung akan membangun gedung parkir bersama di beberapa titik." ........ ...
Komentar
Posting Komentar