Analisis pada Eksperimen Fisika yang dilakukan selama di ITB (Aktivitas Radioaktivitas)

Detektor Geiger Muller tidak dapat menentukan jenis radioaktif yang digunakan karena kerja alat ini hanya bisa menghitung jumlah partikel/elektron yang lewat, dalam kata lain elektron yang diemisikan dari sumber. Ditambah lagi jumlah partikel yang dipancarkan bersifat random, tidak menentu, sehingga sangat sulit mennetukan sumber radioaktif dari ketidakpastiann jumlah partikel yang diemisikan. Namun walaupun kita tidak menentukan sumbernya, kita minimal bisa mengetahui apakah sumber memancarkan sinar gamma atau tidak. Karena GM Counter hanya bisa mendeteksi sinar alpa dan beta saja

Alasan ditentukan tegangan kerja dahulu pada detector Geiger Muller yaitu agar kita tau pada saat rentang tegangan berapa saat GM counter bekerja secara fungsional, mengingat GM counter hanya bekerja pada saat didalam daerah V pada grafik gambar berikut


Jika jarak sumber dan detector dideaktan atau dijauhkan, pengaruhnya ke jumlah cacahan yang ditangkap. Jika jarak sumber dan detector didekatkan maka jumlah cacahan yang diterima akan lebih besar karena kuantitas radiasi yang diterima detector akan lebih besar berlaku untuk sebaliknya bila jarak sumber dan detektor dijauhkan maka jumlah cacahan yang diterima akan lebih kecil karena kuantitas radiasi yang diterima detector akan lebih kecil. Jika detector dibesarkan maka akan membuat kuantitas radiasi yang ditangkap oleh detector semakin lebih banyak..

Pada percobaan variasi tebal penghalang, semakin tebal penghalang maka nilai mean yang didapat semakin kecil dan nilai variannya semakin besar, hal ini dikarenakan semakin tebal lapisan penghalang membuat kuantitas sumber radioaktif yang diterima semakin lebih sedikit. Pada percobaan yang berkaitan dengan variasi jenis penghalang Semakin besar nilai massa jenis dari penghalang akan membuat nilai mean nya semakin kecil atau kuantitas sumber radioaktif yang diterima oleh detector akan semakin kecil. Berlaku untuk sebaliknya semakin kecil massa jenis penghalang akan membuat kuantitas sumber radioaktif yang diterima oleh detector semakin besar.

Perbandingan kurva distribusi untuk bahan Cs-137 dan Ba-133 dapat dilihat pada gambar 15 untuk Cs-137 dan 14 untuk Ba-133. Didapatkan hasil untuk bahan Cs-137 nilai mean dan variance yang didapatkan lebih tinggi dibandingkan bahan Ba-133. Puncak dari grafik Ba-133 lebih besar dibandingkan dengan puncak dari grafik Cs-137 dan waktu paruh Ba133 selama 10 tahun sedangkan untuk kalibrasinya di tahun 2002 dan waktu paruh Cs-137 selama 30 tahun dan untuk kalibrasinya di tahun 2007, sehingga untuk Ba-133 sudah mengalami peluruhan selama 16 tahun sedangkan untuk Cs-137 selama 11 tahun dan membuat kuantitas sinar radioaktif yang dipancarkan lebih besar dibanding Ba133. Pada percobaan ini digunakan konsep statistic pada peristiwa radioaktivitas untuk
menyatakan probabilistic terbesar dari suatu percobaan, jika hanya dilakukan satu kali pengambilan data maka data yang didapat mungkin tidak akan sesuai dengan kenyataannya dan pada kenyataanya setiap bahan radioaktif terkadang tidak hanya memancarkan satu jenis sinar radiasi saja seperti Cs137 yang memancarkan sinar gamma dan beta.

Metode yang digunakan pada percobaan ini yaitu menggunakn distribusi normal, karena data data yang peroleh dari eksperimen berupa sejumlah data yang random, namun randomnya angka ini bisa dilacak/diprediksi dan berperan penting di dalam berbagai fenomena fenomena acak di alam. banyaknya fenomena alamiah yang terjadi secara acak dapat ditaksir peluang kemunculannya sebagai sebuah distribusi normal karena pemancaran sinar radioaktif yang dipancarkan oleh sumber bersifat acak dan juga kontinu, pada percobaan kali ini juga dilakukan pengambilan data yang cukup kecil sehingga nilai cacahan cenderung mendekati distribusi normal dan persebaran nilai dari datadata tersebut cenderung dekat sama lain
Untuk bagian open problem dengan menggunakan sumber Cs-137 kalibrasi tahun 2003 variasi jarak yang dilakukan di jarak 10 cm, 15cm, dan 20cm dengan sumber Cs-137 kalibrasi tahun 2007 didapatkan hasil nilai mean yang didapat dari Cs-137 kalibrasi tahun 2003 cenderung lebih kecil dibanding dengan nilai mean dari Cs-137 untuk Cs-137 kalibrasi tahun 2007 dan untuk Cs137 kalibirasi tahun 2003, kalibrasi tahun 2007 karena untuk sumber Cs137 kalibrasi tahun 2003 sudah terjadi peluruhan lebih awal sehingga kuantitas pemancaran sinar radioaktifnya akan lebih kecil dibanding dengan sumber Cs-137 kalibrasi tahun 2007.

Dengan menggunakan sumber Sr-90 (waktu paruh = 28,8 tahun) dan Am241 (waktu paruh 432 tahun) praktikan menggunakan penghalang Al I lalu didapatkan urutan nilai mean dari terkecil ke terbesar yaitu sumber Am-241, Cs137, dan Sr-90 sesuai dengan gambar 10 untuk sumber Cs13 tahun 2007, 19 untuk sumber Sr90, dan 20 untuk sumber Am-241 karena urutan waktu paruh dari tertinggi ke terendah yaitu dari sumber Am, Sr, lalu Cs sehingga semakin tinggi waktu paruhnya maka kuantitas pemancaran sinar radioaktifnya semakin melemah

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

60 hari bercerita - KAIST

School-University Transition

TUGAS PRD #2 FMIPA ITB Semester 1 2016/2017